Mimpi Jadi Guru

10.56.00 A. Y. Indrayana 17 Comments



Assalammu’alaikum Sahabat Blogger… Bagaimana hari dan ibadah puasa kalian semua sampai sekarang? Alhamdulillah lancar yah. Begitupun dengan aku, pastinya sih lancer…. Hehehe. Sejenak kita lupakan dulu tentang Giveaway, aku ingin berbagi sesuatu nih sama sahabat blogger semua. Semoga apa yang akan  aku tuliskan ini akan menjadi kenyataan dikemudian hari. Aminn…

Yang pertama, Puja dan Puji aku panjatkan kehadirat Allah SWT beserta Nabi dan Rasul-Rasulnya. Dan semua elemen yang telah menghadirkan aku yang berada di depan komputer ini, yang sudah hampir 14 jam lebih menunggu ‘downloadan’ sebuah system operasi baru untuk pengguna komputer ‘addicted’ seperti aku, yaitu Microsoft Windows 8 Release Candidate Preview. Wow… 14 jam broo…. Hahaha :D

Haha. Lupakanlah…. Intermezzo yang gak penting. Sekarang aku ingin berbagi tulisan kepada sahabat blogger semua. Alhamdulillah inspirasi kembali muncul setelah lama vakkum 5 hari lamanya. Selanjutnya, semoga tulisan ini kiranya bermanfaat bagi kita semua selain bagi aku pribadi ya. Aminn…

Belakangan ini aku sering sekali mimpi posisi aku sedang mengajar dihadapan 40 anak-anak siswa. Tepatnya satu jam sebelum aku bangun untuk makan sahur tadi, pukul 02.30 WIB. Aku ingat ketika aku tiba-tiba diajak oleh dua orang yang nggak dikenal, dan mereka membawa aku menuju suatu kelas yang sudah penuh ramai dengan siswa.  Wah, saat itu aku baru menyadari kalau aku ternyata sudah berprofesi sebagai guru dimimpi itu.

Hah??? Guruu…….????? Ya Allah…. Bahkan background pendidikanku aja bukan di dunia ajar-mengajar. Ya sudah seketika aku masuk saja kedalam kelas itu dan serentak para siswa itu memberikan salam kepada aku.

“Mas Indra… Mas Indra tolong gantiin kelas yang lagi kosong dulu ya disini” ujar anonim itu kepadaku.
“Lho, mas… emang disini gurunya kemana, tho?” tanyaku bingung
“Gurunya sakit. Udah masuk aja. Absennya ada didalam” ujar anonim tersebut berkeras.
“Aaaa….iiiiyyaaa…..iyaa…..iyaaaa………” paksa mereka mendorong dadaku kedalam kelas.
Serentak saja murid di kelas meneriakiku seperti layaknya guru sungguhan, “Selamat Siang, Paakkk…..”

Aku amati diri aku sendiri di dalam mimpi itu, ternyata pakaian aku sudah memakai jubah PNS!!!! Dan akupun tanpa sadar telah menggengam tas hitam kecoklatan menggantung di tangan kanan aku sedari tadi berdiri didepan kelas. “Ini mimpi apa guee….. Gue mimpi jadi guru!!!”

Langsung deh aku dengan spontan mengajari mereka di mata pelajaran Sosiologi. Hebatnya lagi, aku yang berasal dari dunia nyata sama sekali gak ada pengalaman mengajar anak IPS, di mimpi aku lancer banget!!! Setelah pelajaran usai, kembali satu orang anonim yang memprovokasi aku untuk menggantikan guru yang sedang absen katanya itu, mengajak aku makan-makan di sebuah kantin. Waduh, apa di dunia mimpi gak mengenal hari berpuasa yah? Hahaha :D

“Hebat banget kawan… Bagus. Salute Seratus Persene…. Elu emang ada bakat jadi guru. Elu bisa ngajar, dan anak-anak jadi paham pelajarannya sama elu. Double Wow ….” Sanjung anonim itu pada aku. Wah, pastinya aku senang sekali disanjung seperti itu. Namun apa daya ketika aku dan orang itu sedang berjalan kebawah anak tangga menuju kantin yang tengah ramai itu, seseorang di dunia nyata membuka pintu kamarku dan membangunkanku, “Mas…. Sahur mass….”. Ternyata itu pembantu rumah aku. Seketika aku bangun dan lingkungan didepan mata kembali berbeda dan berubah drastis karena sebelumnya aku berada di sebuah sekolah yang aku gak tahu, mendadak berubah jadi di kamar aku sendiri. “Ternyata Cuma mimpiiiiii…………….”

Anyway, bicara mengenai guru Alhamdulillah itu juga menjadi ‘my wishes’ di umur 22 aku. Dan pengalamannya pun aku sudah cukup tahu. Walaupun bukan di lembaga formal dan hanya pernah mengajar anak-anak mahasiswa sewaktu aku bekerja di sebuah kampus di wilayah Salemba, Jakarta Pusat, namun aku sudah mengantongi cukup banyak cara agar bisa memahami siswanya dalam belajar di pelajaran itu.

Aku pribadi bisa merasakan bagaimana perasaan ‘dag dig dug’ ketika berada pertama kali dan bahkan sampai sekarang… mengajari anak-anak siswa yang sejatinya butuh seorang guru untuk diajarkan. Hmm… jadi teringat saat dulu aku pernah mengajar matapelajaran Bahasa Inggris didepan murid kelas 1 sampai kelas 6 di Sebumi Global School, Rawabelong, Jakarta Barat, beberapa bulan lalu. Pada awalnya memang sempat gerogi, tapi lambat laun sudah mulai terbiasa. Karena hampir sama halnya dengan acara belajar-mengajar di sekolah terbuka Taman Ceria Negeriku yang biasa aku jumpai. Mengajar anak-anak butuh kesabaran dan pastinya kesiapan mental yang cukup tinggi.

Okee. Kalau bicara pengalaman sudah, sekarang masalahnya berada di background. Aku tidak ada background di dunia ajar-mengajar sama sekali. Huhuhuhu *terima nasib . Sedangkan untuk menjadi pengajar saja, dibutuhkan gelar Sarjana Strata 1 Pendidikan atau SPd. Sayangnya aku berada di posisi gelar Ahli Madya (Amd) yang insya Allah akan menyandang nama sebagai ‘Abraham Yusuf Indrayana, S. Kom ‘ atau Sarjana Komunikasi. Sejenak aku berpikir, apakah lebih baik jadi dosen saja yaa…???

Riska Irmayanti, sahabat aku di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) melalui Blackberry Messengernya (BBM) kepada aku beberapa hari lalu sempat menuturkan hal yang sama kepada aku. In… Kenapa lu gak jadi guru aja? Ya gak lah Ris… wong pendidikanku gak disini. Sambung perempuan pengajar Theater Amoeba di Universitas Mercu Buana itu kepada aku, “sayang ya… padahal kamu ada bakat lho sebenernya…”

Menanggapi hal yang serupa, akupun tidak bisa lagi mengelak bahwa aku tidak memiliki latar belakang seorang sarjana pendidikan sama sekali. Aku hanya bisa mengajarkan apa yang aku tahu. Dan mungkin nanti, aku akan berkiprah kembali sebagai seorang pengajar di bidang Multimedia ataupun Broadcasting, sesuai dengan background aku sekarang ini. Yaa… semoga saja. Takdir Tuhan siapa yang tahu…

Someday, ‘my wishes’ ini akan terwujud. Aku pun jadi yakin ingin menapakkan kaki menuju dunia ajar-mengajar kelak nanti. Yah walaupun keinginan menjadi seorang jurnalis masih sangat kuat, tapi ikhtiar aja lah. Hehehe…. Dan bagi sahabat blogger yang juga pernah punya mimpi yang akan jadi keinginan, semoga terwujud mimpinya. Plus, semoga selalu diberi kemudahan bagi kita semua akan segala sesuatunya. Aminn….


Terlepas apakah aku jadi guru atau tidak nanti, tapi setidaknya aku sudah berusaha … Meskipun baru berusaha mimpi. Hehehe ^ ^

17 komentar:

  1. Kadang untuk menekuni profesi tertentu tidak selalu harus memiliki pendidikan bidang tersebut. Banyak wartawan kami bukan berlatar belakang pendidikan kewartawanan, bahkan ada yang dulu kuliahnya di bidang eksakta.

    Guru bukanlah pekerjaan, tetapi profesi yang luhur dan mulia. Salam dari Pontianak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam dari Jakarta, kang .. :)
      Yap betul. Guru adalah cita-cita yang paling mulia....

      Ooh. Akang kerja di perusahaan berita toh? Wah aku mauu :)

      Hapus
  2. tanpa guru kita semua gak akan bisa seperti sekarang ini menembus dunia tanpa batas hanya dengan duduk manis di depan komputer! hehehe..

    BalasHapus
  3. Bung Penho : Ahahaaha...... bener itu :D

    BalasHapus
  4. semoga bisa jadi kenyataan mimpinya.. :)

    jadilah guru yang baik :P

    Sedikit cerita.. dulu aku pernah jadi kakak pendamping buat adik2 kelas yg masih kecil2, eh karena seringnya ngajarin dan nemenin mereka, malah tumbuh kasih sayang dan aku nganggep mereka seperti anak muridku, sejak itu terbesit keinginan utk jadi guru, meskipun guru bukan mrupakan impian utama hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah dhek Naima punya bakat juga jadi guru yaa... Bangganya aku udah mengajarimu *plak :P

      Hehe
      Tapi terlepas apakah itu impian utama atau tidak, tetap menjadi guru adalah mimpiku yang sempat terkubur beberapa saat ini.

      Hapus
  5. hehe... kalo terkubur, bangkitin lagi dari kuburannya.. :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah jangan... nanti aku diserang sama hantu pendidikan lagi .. :D

      Hapus
    2. enak dong kalo diserang hantu pendidikan... siapa tau bisa tambah pinter ^_^

      Hapus
  6. cita-cita mulia...semoga kelak benera terjadi dan tentunya akan mendapatkan gelar "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa", jadi guru tidak perlu juga bergelar pendidikan, dan ngga harus selau berdiri didepan kelas, dengan membagi ilmu yang bermanfaat bagi sesamapun, menurutku udah jadi guru, tapi guru tanpa honor dan tanpa kepala sekolah...hehee
    semoga cita2 mulianya tercapai...entah bagaimana caranya, hanya ALLAH yang tau'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Double SETUJU kawan ...
      Sekarangpun aku banyak menghadiri kegiatan ajar-mengajar secara sukarela... Semoga amal baik ini bisa berlanjut hingga nanti ya kang.. Hehe ^ ^

      Hapus