Inspiraturis … (Part 1) : Kuda Lumping Singoludro

02.36.00 A. Y. Indrayana 59 Comments

Dear Blogger …



Assalammualaikum … Lagi-lagi si penulis kecil Indrayana menuliskan sebuah artikel kembali untuk sobat blogger. Lewat tiga hari saja rasanya dalam hati … seperti gimana gitu. Hehe … Kali ini aku akan mengulas sedikit cerita pelesiran singkatku mengenai sebuah tempat wisata yang tak kalah dengan yang lainnya. Sarat edukasi, namun penuh akan hal yang menyenangkan. Dimanakah itu? Hehe .. nanti dulu bung/mbak. Juga, pada point utama kali ini aku akan sedikit mengulik sebuah inspirasi yang datang dari grup yang sehari-harinya mencari nafkah demi menghidupi masing-masing dari mereka. Penasaran apa? Yuk kita simak yang berikut ini …

Okei. Langsung pada point intermezzo terlebih dahulu. Ketika sobat blogger lelah dalam beraktivitas dan merencanakan akan pergi ke suatu tempat yang menyenangkan dan menyegarkan pikiran sobat blogger semua, ada banyak tempat referensi yang tersedia untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Situs Museum Purbakala Sangiran yang pernah aku posting beberapa waktu lalu, dan yang kedua … inilah dia. Wisata Kota Tua. Jeng jeng jeennggg… *bunyikeyboard* :D





Bagi yang sudah cukup lama bermukim di DKI Jakarta pasti sudah mengenal lokasi wisata yang satu ini. Yap … tidak lain dan tidak bukan adalah Museum Fatahillah. Eitt … tunggu dulu. Tidak perlu berkecil hati mendengar kata ‘museum’ yang satu ini yaa. Meskipun namanya museum, namun tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. Karena tak hanya berisi tempat bersejarah peninggalan jaman Belanda saja yang ada disini. Bila kita melihat seisi lapangan di sekitar Fatahillah ini, kita akan menemukan banyak jasa penyewaan Sepeda Onthel yang bisa kita sewakan, atraksi unik dari para komunitas atau grup, museum seni rupa, Pelabuhan Sunda Kelapa, hingga jajanan souvenir unik khas Jakarta.

Bicara tentang ongkos marongkos, pergi berwisata ke tempat yang sudah lama diresmikan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ini terbilang cukup terjangkau. Untuk berkeliling si sekitar lapangan dan sekadar foto-foto kita bisa dengan bebas melakukannya. Untuk masuk ke Museum Fatahillah kita cukup membayar Rp. 3000 per orang untuk tanda registrasi. Bila kita ingin merasakan uniknya naik sepeda zaman Batavia kita hanya mengambil kocek sekitar Rp. 10.000 per sepeda untuk satu jamnya. Terjangkau, bukan?



Sugeng, ketua Grup Komunitas di sebelah kiri
Kuda Lumping Singoludro dan aktivitasnya

Yup. Setelah berlebar panjang bicara mengenai Kota Tua tadi, kini saatnya mengulik tentang grup yang bisa dibilang sudah lama bermain di tempat wisata ini. Ada yang menarik bila kita mengunjungi kawasan ini setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Siapakah mereka? Mereka adalah sekelompok ‘pengamen’ yang biasa mangkal di hari-hari weekend ini. Hmm … tunggu dulu. Bukan ‘pengamen’ seperti yang ada di sekitaran umum itu yaa.

Melainkan mereka adalah Grup Kuda Lumping Singoludro. Grup yang didirikan sejak tahun 1969 itu banyak menyuguhkan beragam atraksi atau debut yang sering ditampilkan di sini, diantaranya adalah Kuda Lumping dan Makan Beling. Kuda lumping itu sendiri diperankan oleh anak kecil berusia lima tahun, dibungkus pakai kain kaffan dengan panjang sekitar 50 meter dikafer dengan kain putih lagi. Selain itu, atraksi lainnya ada Manusia Makan Api, Manusia Akrobat Topang Harimau, Manusia masuk Tong dengan kuda lumping makan beling. Kurang lebih seperti ini atraksinya …


pembungkusan anak kecil berusia lima tahun dengan kain kaffan  -  Foto Catatan Indrayana

Foto Catatan Indrayana

Foto Catatan Indrayana

saat atraksi  -  Foto Catatan Indrayana


saat bersiap makan api.. Foto Catatan Indrayana

saat penyemburan api ... Hrrr. siapa yang mau coba? Haha ... Foto Catatan Indrayana
NOTE : DON'T TRY that at HOME !!!!

di zoom lebih dekat ... Foto Catatan Indrayana
NOTE : DON'T TRY that at HOME !!!!

Mereka tak hanya beraksi secara umum di hari minggu akhir saja lho sobat blogger, tetapi mereka memprioritaskan target pemenuhan undangan atau perkawinan, peresmian gedung, hajatan, peresmian kantor, dan lain-lain. Selebihnya, mereka berkeliling kampung untuk menunjukkan aksi kebolehan mereka. Jadi, setiap hari mereka tidak pernah diam di rumah saja.

Juga, prioriti utama dari grup yang dipegang oleh pria asal Surabaya, Jawa Timur ini adalah bagaimana mereka menarik mata para pengunjung dan banyaknya saweran yang mereka terima. “Kami murni mencari nafkah dengan cara ini, mas. Sebisa mungkin kami tunjukkan atraksi yang sekiranya bisa menghibur masyarakat,” ujar Sugeng, yang juga dimaksud dalam sapaan majemuk Pria asal Surabaya, Jawa Timur tadi.

Sugeng menambahkan harapan utama dijalankannya kegiatan seperti ini agar budaya Kuda Lumping bisa terus maju, dan ada perhatian dari Pemerintah. “Kita memang kerjanya seperti ini. Menghibur dan menyenangkan orang,” tambah ketua grup Kuda Lumping Singoludro itu.



Bagaimana kawan. Tertarikkah sobat melihat atraksinya?

59 komentar:

  1. saya lamaa banget nggak nonton kuda lumping. pas ke kota tua 2 kali terakhir pun nggak nemu yang ini.

    tapi ini berisiko juga buat pengunjung to? misal saat "mendem" itu mereka nabrak kita, kita juga ketularan biasanya kan? bayangkan ada intervensi makhluk asing di area itu. cukup nggegirisi.

    OK-lah ini memang kesenian, dan menjadi peran pemerintah untuk menjaga ini tetap ada. cuma ya itu tadi, saya agak kurang sreg dengan ritualnya.

    btw kalo museumnya, kerawat nggak sekarang? ada debu menclok setebel 5 cm di atas meja kursi. kemaren saya baca liputan tentang ini, katanya demikian. tapi pas saya kesana, kayaknya nggak ada masalah sih. atau jangan-jangan mas AYI yang abis main bola di lumpur sama keponakan2, lalu masuk aja ke museum nggak cuci kaki ya, hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang benar ya Mas, aturan budaya, tata krama dan agama terkadang saling bersinggungan dan bahkan saling tidak masuk akal, tapi mungkin disinilah kita harus bisa memilah-milah dalam memberikan pandangan. Atau mungkin mas Zach punya pendapat yang lebih spesifik?

      Mungkin bukan Mas Indra yang habis main bola dilumpur terus langsung masuk Museum, tapi mungkin ada orang tambang batu bara yang berkunjung kesana dengan memakai sepatu boots yang belum dicuci...Opps!

      #celingak-celinguk takut ada Mas Raw!

      Hapus
    2. kang Zachroni : hmm ... sepertinya aman terkendali kang. Museum Fatahillah terakhir aku kunjungi belum lama juga sih ...

      uhmmm.... sebenarnya begini yah. lebih tepatnya kalau ini menjadi sebuah 'hal' yang nantinya akan terus-menerus ada, dan tak akan terintervensi. Karena apa? sebuah budaya itu tak pernah lepas dari campur tangan si pembuatnya, yaitu siapa lagi kalau bukan Nenek Moyang kita.

      Artinya begini. Menurut perspektifku pribadi teruntuk budaya semacam ini pastinya sudah melalui latihan yang keras dan ketahanan fisik yang kuat. Jadi orang yang berada didalamnya sudah tidak lagi tidak terbiasa dalam menjalankan atraksinya. Nah begitupun halnya dengan kirab budaya. Tidak ada memang atau bahkan bisa jadi bersilangan bila dikaitkan dengan tata krama dan agama. Tapi benar adanya kata mas Rudy Arra :

      Pemilahan perspektif dalam berkehidupan harus bisa kita pilah. Dan yang penting, tujuannya kang. Tujuan dari budaya itu sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan, Allah SWT. Betul bukan kang? :)

      Aduh pegel ngetiknya ... panjaannggg :D

      Hapus
    3. Mas Rudy Arra : Setuju sangat mas. Maka dari itu lestarikanlah budaya kita karena kalau udah diambil sama negara luar, bakalan susah lagi ngambil baliknya :D

      Ohya ada komentar yang ketinggalan. Bukan aku yang main bola disitu kang, tapi mungkin ada yang habis mainan sama debu, terus lupa disapu. Hahaha .....

      Hapus
    4. @Mas Rudi dan Mas AYI: paman jauh saya di Cilacap sana, adalah pendiri sebuah grup Kuda Lumping (di Cilacap namanya "Ebeg"). Beliau itu saking cintanya sama kesenian itu, segenap ritualnya dilakoninya. Dia shalat, tapi sesajian setiap malam-malam tertentu dan ritual bertapa demi menyukseskan acara pertunjukan itu, jalan terus. itu yang bikin kami agak nggak sreg. kalo bagi saya, kesenian is kesenian, jangan ada ritual pemujaan dzat lain di situ. (kenapa saya jadi serius ya.. )

      Hapus
    5. Hmmm...aku gak berpikir sampai sama Mas, karena memang aku tidak tahu bagaimana ritual sebenarnya. Jika memang ini sudah melukai aturan agama yang dianut, dan dipandang dari kaca mata agama, tentu saja ini tidak tepat. Dan ternyata benar yang aku bilang, jika aturan budaya dengan aturan agama itu sering kali bersinggungan. Ini memang dilema, disisi lain si pelaku ingin membuat keduanya berjalan sempurna diatas aturannya masing-masing tapi disisi lain mau tidak mau akan ada pengurangan nilai pada salah satu pihak. Karena bersinggungan tadi. Jadi???

      Hapus
    6. Ralat: maksudku "Hmmm...aku gak berpikir sampai SANA Mas,..."

      #maaf typo!

      Hapus
    7. Kang Zachroni : hmm. . . iya memang benar adanya. tindakan itu menjadi missinkron sama hal lainnya, Oke-lah dalam hal ini agama.

      Ini menarik. Kita berdiskusi mengenai budaya dan agama yang tidak saling menyatu, mungkin bahasanya demikian. Mari kita diskusikan ini bersama mas Rudy Arra.

      Harus diakui memang, tidak semua budaya sinkron akan agama atau tata krama. tetapi mungkin kita bisa memahami 'tujuannya'.
      tujuannya, atau maknanya ... adalah satu alasan mengapa budaya itu tidak bisa terintervensi hingga sekarang, karena kalau 'intervensi' itu sampai terjadi, mungkin negara ini udah bukan negara lagi sekarang. Kerusuhan, perpecahan, dll. Ya bukan?

      Artinya begini. Ada hal yang tidak bisa disambungkan dengan hal lain. Misal kalimat sebuah makanan. Makan sayur-sayuran dengan makan ayam kentaki. Coba bandingkan ...

      Pada hakikatnya manusia harus makan. Kalau tidak makan, akan mati. Betul?
      Tetapi bandingkan .. Kita dikatakan makan nasi harus dengan sayur-sayuran, dengan dalih membuat tubuh kita makin sehat.
      Tapi kalau orang memilih ayam kentaki sebagai 'lauk' nya nasi, gimana? Hanya pola makannya saja yang berbeda kan? Tetapi pada hakikatnya tetap mereka 'makan'.
      Sehat tetap kedua-duanya sehat, hanya pemikiran orang yang makan sayur-sayuran dengan orang yang makan ayam kentai tentu tidak bisa diintervensi dengan mudah. Mereka memiliki ekspektasinya masing-masing.

      Nah begitupun dengan budaya. Mereka memiliki tujuan yaitu sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena mereka hidup di dunia.
      Hanya 'caranya' saja yang berbeda. Tuhan Maha Tahu kan? Siapa yang tahu mungkin mereka tidak benar-benar *mohon maaf* memuja hal lain. Semua ada maksudnya, tetapi mungkin saja ada yang kita tidak 'ngeeh'.
      Begitu sih kang. Menurut perspektif aku pribadi ...

      *kretekkretektektek* aduduuuhh ... #pegel

      Hapus
    8. sampai lupa ..

      Mas Rudy Arra : Jadi seperti yang aku singgung diatas. Tidak akan ada persamaan antara kirab budaya dengan tata agama.

      Atau ada perskeptif lain mas? Mumunggu diskusi dimari :D

      Hapus
    9. ntar saya gabung lagi Insya Allah.

      Hapus
    10. Iya ya Mas Indra, kami mau cucus dulu ya :)

      Hapus
    11. Begini, kalau dari kacamataku sih, mereka-mereka dan pendahulu mereka adalah orang yang tidak tahu menahu soal agama pada awalnya. Kemudian, datanglah beberapa orang yang menyebarkan ilmu baru berupa agama yang masuk akal daripada ajaran lainnya yang sama sekali tidak masuk akal.
      Nah, berhubung orang-orang jaman dulu itu lumayan kolot, walhasil beberapa petinggi agama menerapkannya dalam kebudayaan setempat biar lebih mudah dipahami.
      Contoh konkritnya nih, kita tahu bahwa hal yang harus dilakukan saat akan masuk islam adalah membaca dua kalimat syahadat, tetapi mereka-mereka tidak begitu paham dengan syahadat, walhasil para pemuka agama memplesetkannya menjadi sekaten, biar terdengar lebih easy listening. Tapi entah mengapa dan dari mana asalnya, tiba-tiba ada yang namanya upacara sekaten.
      Nah, ini yang memplesetkannya siapa kalau bukan mereka-mereka yang masih percaya dengan adat nenek moyang dan mencampur adukkan dengan ajaran agama...

      Hapus
    12. point banget nih komennya Ocha. pinter banget emang koq Ocha ini.

      Hapus
    13. bisa jadi demikian cha ...

      tapi itu tadi kang. jika ada 'elemen' yang berusaha untuk dicampuradukkan kepada 'elemen' yang lain, tentu akan sulit atau bahkan tidak pernah nyambung.

      sebenarnya masalah pada 'praktiknya' kan? aku cukup belajar dari banyak sumber,
      dan seperti yang sudah ku katakan diatas, dari hasil transkrip wawancaraku kepada sang Ketua, mereka tetep melestarikan kebudayaan ini oleh karena tujuan, yakni Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

      Karena memang ada satu atau dua gerakan mereka yang kita tidak mengerti. Namun diyakini mereka (para budayawan), semua itu mengandung makna...

      Hapus
    14. Aku pernah mendengar ungkapan "Untuk menjadi seorang Muslim yang baik, kita tidak perlu menjadi orang Arab yang baik". Tarus terang aku masih belum berani mengambil kesimpulan soal ungkapan itu, tapi mungkin ini ada hubungannya dengan tema ini.

      Hapus
  2. kayak article koran ni... aku suka..
    keren...yg ini aku faham,
    aku juga pengen nulis ginian..tapi..masih cari ide lagi..

    part2 nya..ditunggu ni..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ...
      tulis saja Jue ... akan ku tunggu ..

      okhaii .. :D

      Hapus
  3. Menarik...
    aku udah sering banget dengar ttg museum fatahillah, meski belum pernah melihat langsung ke sana. Tapi liputan kamu ini something new for me. Baru tau ada atraksi debus di sana. Aduuhhh... seram banget tuh ngeliat semburan api gitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahay ... begitu jelas di foto yaa???

      But don't try that at home without a hard learning yaa .. :D

      Hapus
  4. wah lama gak menyasikkan kuda lumping...keren bangets tapi, dulu waktu kecil sering menyasikkan...

    BalasHapus
  5. Aku pernah melihat atraksi kuda lumping disalah satu acara yang diadakan oleh tetangga saya waktu masih tinggal di Bandung. Dan dalam ritualnya juga ada anak kecil yang dibungkus kain lalu di cambuk-cambuk semacam pada gambar diatas, hihh...ngeri aku melihatnya, apa itu tidak termasuk kekerasan terhadap anak ya?, tapi mungkin dalam hal ini kita harus menggunakan pandangan dari sisi seni dan budaya. Budaya leluhur yang harus kita lestarikan. Aku rasa sudah jarang lho orang yang mu melestarikan budaya leluhur seperti halnya Mas Sugeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya mas. Lagi-lagi ini adalah perspektif sebuah warisan leluhur budaya ..
      dan hanya bisa dilakukan oleh manusia professional saja ...

      jadi sangat tidak tepat bila dikatakan sebuah 'kekerasan pada anak', sebetulnya ...
      Budaya tetaplah budaya, akan menjadi tidak sinkron bila dibandingkan dengan hal lainnya, :D

      Hapus
    2. sebenarnya si subyek ada di alam bawah sadar. mereka nggak pernah melakukan itu semua. makan kaca etc. nyatanya di dalam lambung mereka nggak pernah ada kaca koq. begitu pun anak yang dicambuk, setelah usai pertunjukan itu, dia akan bilang: ngapain sih tadi?

      Hapus
    3. Jadi unsur yang tidak disengaja ini bisa diterima dan tidak dianggap penyimpangan ya Mas?

      Hapus
    4. kang zachroni : mungkin bisa jadi begitu. karena mereka sama sekali tidak mengeluh hal negatif dari apa yang mereka jalani ...

      memang butuh latihan fisik jika inign memainkan budaya itu kang ...


      mas Rudy Arra : Jika ini sebuah unsur yang tidak disengaja, seharusnya bisa diterima.
      Namun jika sudah diketahui ketidaksengajaannya, masihkah kita memperdebatkannya?

      Hapus
    5. seru nih kayaknya. ntar siang takmampir lagi deh Insya Allah.

      Hapus
    6. "Kunjungan sebelum berangkat gan...!" hihi (komen ala blogger sejati).

      Iya, Insha Allah aku juga nanti akan berkunjung ke tempat Mas Indra lagi, tapi nanti saja ketika sedang kumpul semua, biar tiki-taka nya dapet. :)

      Hapus
    7. ketidaksadaran itu sengaja diciptakan. itulah masalahnya.

      Hapus
    8. Dan prosesinya yang menggunakan cara yang tidak dianjurkan oleh agama, mungkin itu yang menjadi point Mas Zach.

      Hapus
    9. iya Mas Rud. dan saat mencampuradukkan itu, ada agama ada mistis, sdepertinya benar apa yang disampaikan anak cerdas Ocha di atas. dia memang tanpa strip di kepalanya. pinter banget.

      Hapus
    10. diskusi ini berlangsung seru yaa... ada yang pro dan ada yang kontra.


      berbagi pemikiran, berbagi pengetahuan, berbagi kebahagiaan dalam pertemanan

      Hapus
    11. Syukurlah, ternyata masih ada generasi muda Indonesia yang berpemikiran luas. dengan menganalisa dari sejarah, dia dapat mengambil kesimpulan yang menyelaraskan hal yang awalnya bersinggungan.

      #Lanjut...

      Hapus
  6. Kunjungan perdana :) sambil baca2

    visit n koment back y dblogq :)
    klo boleh skalian follow y nnti ak folback.

    BalasHapus
    Balasan
    1. okei ...

      Komandan Tertinggi langsung instruksikan pemilik blog untuk langsung ke TKP ...

      Hapus
  7. weekend di Museum 'murah, meriah dan menyenangkan' ya Ndra :D

    Sayangya museum di sini ga serame itu.. Sangat sepi malah.. --'

    anak kecil usia lima tahun, dibungkus pakai kain kaffan itu ngelakuin atraksi apaan Ndra?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Nin. itu salah satu rangkaian tugas aku sebagai calon anggota Persma kampus ...
      disuruh jalan-jalan dan mencari inspirasi .. hehe

      jadi anak kecil itu sedang melakukan atraksi 'bungkus pocong anak'. Yang mana hitungan detik, pecut dilesatkan ke tubuh gadis yang terbungkuskain kafan itu. Nah tak lama berselang akhirnya si anak dimasukan ke dalam tenda hitam. Tapi yang terjadi, hanya dalam hitungan menit, si anak keluar dengan kondisi sudah terlepas dari ikatan dan balutan kain kafan. Padahal didalam tenda itu gak ada siapa-siapa lho Nin .. :D

      Hapus
    2. Ohh,, berart hampir mirip sama sulap" yang ada.. Masuk dalam peti diikat, keluarnya udah dalam keadaan ga terikat.. :D

      Ga merinding tuh ndra nnton kuda lumping.? Kan katanya ritualnya sarat sama yang mistis-mistis gitu..

      Hapus
    3. si pemberani dan si penasaran ada di sini...

      Hapus
    4. haha. masa iya gak berani?? asal ada Nina aja aku kuat banget kok..
      *loh gak nyambung* ??? :D


      Ohya, kamu panggil aku dengan sebutan 'In' aja yaa. Jangan 'Ndra', karena kesannya kasar, dan aku kurang suka *maaf* ^ ^


      Kang Zachroni : Ckckck .... akang kekurangan kadar bubur kang Asep nih kayaknya ..
      Kang Aseeepppp ..... :D

      Hapus
    5. Ohh, Ok deh In.. Maaf untuk panggilan yang tak menyenangkan ..

      Hapus
    6. wah, kalau panggilan itu Nina nya mau gak yaa? Haha :D

      Hapus
  8. saya gak mauuu nonton kuda lumping lagi, ngerii.. trus gitu harus syahadat ulang kalo udah liat yg ginian. wrrr..

    BalasHapus
  9. indraaa apa kabaaarrrrr :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kabar baik galau dikit..
      (kabuurr...)

      Hapus
    2. Kang Zachroni : Huust ... huust .. huust ... ini abangku ngapain sih disini :D


      Devania Annesya : Kabar baiiikkkk .... Kamu apa kabar???

      Hapus
    3. kurang kerjaan kemaren itu, hihi

      Hapus
  10. Wa'alaikumsalam..

    Dengar musem Fatahilahh sudah sering banget tapi menjejak ke sana belum pernah:(

    Kalau ada atraksi kuda lumping, yg bikin saya ngibrit jika ada sesi yang 'kesurupan' trs ngejar2 penonton...dijamin deh saya bakal lari lebih kencang daripada dikejar anjing. hehehee.

    BalasHapus
    Balasan
    1. whahaha ... jadi bisa sekalian latihan lari dong mbak.. Haha :D

      Hapus
  11. seni kuda lumping memang ada di mana-mana ya sob, ditengah pendapat pro dan yang kontra keberadaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya .. apresiasi buat para budayawan

      Hapus
  12. weih, serem juga kalo ngundang kuda lumping ke pesta perkawinan yak =D
    Menurut saya sih, kesenian seperti ini memang harus tetap kita lestarikan
    gimana caranya coba kita melestarikannya..
    yah, kalau mereka lagi atraksi, gak ada slahnya merogoh kantong untuk berbagi dgn mereka

    BalasHapus
  13. .. dulu di surabaya ada kayak gitu. namun sekarang udah gak ada lagi. huhh. gitu km gak ajak^ aq sich. huhh ..

    BalasHapus
  14. kalau ditempat saya bang, atraksi kuda lumping nggak ada, yang adanya "debus".. acara debus hanya diadakan waktu menyambut tamu² besar doank dan kalau ada kesenian rakyat juga..

    kesenian rakyat indonesia nggak ada matinya.. sangat perlu untuk dinas prawisata untuk memperhatikannya bang :D

    BalasHapus
  15. kunjungan perdana mas =))
    coment back yo =D

    BalasHapus