Peranan Komunikasi … (Part 3) : Hanya pada Satu Jawaban …

02.00.00 A. Y. Indrayana 85 Comments

Salam Blogger …

sumber : chumpysclipart.com



Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh … Kembali lagi bersama blog Catatan Indrayana. Kini, aku sedang berusaha untuk memperbaiki kembali jadwal rutin postingku dan kembali memosting seperti biasa. Hari ini, aku mendapat inspirasi yang sangat sangat luar biasa, karena aku diberikan sebuah pelajaran berharga akan satu buah jawaban yang menurutku sangat bisa memecahkan masalah. Apa itu? Yap. Peranan komunikasi dalam penyelesaian masalah.

Sebelumnya mari kita berintermezzo dulu. Bagi yang belum membaca Part 1 dan Part 2 nya silakan di klik saja linknya yaa. Pada posting lalu aku pernah memposting sebuah diskusi mengenai Sensitivalitas. Kini komennya sudah sampai 230 lebih lhoo. Haha (siapa yang nanya) :p . Dalam posting itu, seperti terlihat dengan jelas akar masalahnya berpaut pada kurangnya komunikasi. Alhamdulillah tidak ada pihak yang terpojok dan semua telah baik-baik saja seperti sediakala.

Disinilah arusnya. Aku kembali dihadapkan masalah yang sama ketika aku mencoba untuk menyelesaikan masalah ini terhadap anggota lain dalam UKM Pers Orientasi, Meruya, Jakarta Barat, tadi malam. Namun mengingat tingkat keresahan perasaan akan konsekuensi emosionalitas dari mereka, aku selalu urung niat untuk membicarkannya.

Malam tadi merupakan malam terakhir aku bertandang ke sekretariat Persma Orientasi. Pada awalnya, aku diinstruksikan untuk mengerjakan tugas yang cukup kompleks, yakni membuat majalah kecil atau dalam tradisi mereka sebut ‘newsletter’. Hampir 60 persen newsletter kami (Aku sebagai anggota dan satu lagi temanku) selesai. Hanya tinggal finishing pada layout dan penyelesaian berita yang datang untuk temanku yang satu tim juga denganku. Baru tadi juga aku diinstruksikan untuk mencari data dkembali atas beritaku yang dinilainya (seniorku –red) kurang layak untuk naik berita.


Tidak .. tidak. Bukan karena masalah itu. Disamping karena suruhan untuk mencari data lagi, karena pekerjaanku tidak hanya mereportasi, reportasi, dan reportasi saja. Aku berkutat dalam banyak tugas yang aku suka untuk aku kerjakan. Semisal, job freelance, layouting majalah dari LPM Inspirasi BSI, mengajar anak-anak kecil, dan lain-sebagainya. Belum lagi, jika aku diterima sebagai karyawan di PT. PKSS (Aminn yaa Rabb), aku akan menghabiskan banyak waktuku dikantor. Waktu nanti akan menjadi dilematis buat aku.

Itu adalah alasan pertama yang aku ungkapkan mengapa aku memilih untuk keluar dari organisasi ini. Alasan diatas bisa aku sebut sebagai ‘focusing’. Fokus pada pekerjaan yang menghasilkan uang, dan fokus pada kuliah yang sudah aku korbankan absensinya hampir lebih dari tiga kali. Ckckck … betapa nekatnya aku hanya untuk LPM Orientasi ini.

Sebagai bahan pertimbangan yang kedua, adalah karena tekanan yang cukup dalam yang membuat aku harus berpikir keras. Lebih lagi, tuntutan perfeksionis yang ada harus tergalakkan oleh anggota-anggotanya. Bukan sebuah pemikiran yang mudah, jika masuk ke dalam beberapa organisasi dan kita dituntut untuk mengikuti segala peraturan mereka. Ya memang benar, tetapi setiap pribadi manusia pasti pernah yang namanya merasakan ‘under-depressed’ dong? Kembali kepada individu masing-masing saja.

Namun demikian sayang demi sayang aku tidak memiliki keberanian yang kuat untuk menyatakan keluar dari sana. Rasa gugup dan takut akan konflik berkelanjutkan kerap menghantuiku sepanjang detik. Tetapi masalah akan terus menyelimutimu jika kamu tidak BERKOMUNIKASI!!!! Penting… ini pelajaran yang sangat berharga buat kita semua, kupikir. Apapun masalahmu, selesaikanlah dengan bicara. Betul sekali itu. Dampak sampingnya? Tidak terima? Terpojok? Marah? Kecewa? Itu lumrah terjadi sepanjang kita berbicara dengan baik-baik dan tidak menyinggung beberapa pihak yang kita tuju.

Pengalamanku tadi, ketika aku mencoba untuk berbicara baik-baik untuk keluar dari sini, dengan awalan mengucap Bismillahhirahmanirrahim, alhamdulillah tidak ada perlawanan dari mereka. Hanya rasa kecewa yang dilumerkan kepadaku karena aku sudah cukup lama mengabdi disini, yaitu hampir selama 7 bulan. Tetapi tetap saja ada yang kurang suka atas pengunduran diriku karena aku dinilai sebagai orang yang inkonsisten dan inkomitmen. But anyway … Things we’ll get done now. Semua pihak dapat menerima, dan usai sudah kegalauanku. Lapang terasa dada ini, karena masalah bathin sudah selesai.

Sekarang aku bisa kembali blogwalking dengan santai dan melakukan sesuatupun yang kusuka dengan tenang hati. Rasanya aku seperti digurui oleh diri aku sendiri, bahwasanya komunikasi memang jembatan yang bisa benar-benar menjalani kamu menuju pengertian. Tidak perlu kabur atau lari dari masalah, dengan komunikasi yang baik dan alasan yang kuat kamu akan semakin yakin untuk menyelesaikannya dengan jalur perdamaian.

Kesimpulan? Sudah cukup jelas kali yaa. Tapi untuk memperjelas kembali, selesaikan masalahmu dengan komunikasi. Tanpa dengan komunikasi, mereka tidak akan tahu apa mau kita. Oleh karena itu diskusi itu penting. Dapat membuka pikiran dan meleberkan cakrawala ilmu yang kita miliki kepada orang yang kita ajak diskusi ini.



Tapi sayangnya, aku terkadang masih suka belum berani untuk berkomunikasi … terlebih karena ingin menyampaikan aspirasi.
Kalau sahabat blogger bagaimana???

85 komentar:

  1. Yoih. Komunikasi itu pembuka. Tapi kalo komunikasi doang, susah juga mau maintain yang ingin dimaintain, mas indra. Maka, menurut saya, yg berikutnya diperlukan adalah: komitmen :D

    komitmen terhadap hasil kesepakatan bersama yg telah didapatkan melalui komunikasi. Cihuy :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya betuulll ... Komitmensi,,
      Aku sudah dari jauh hari berkomitmen, agar apa yang aku pilih ini gak salah dan murni dari kata bathinku mbak ....


      Cihuy lagiii :D

      Hapus
    2. Benar sekali. Yang namanya "salah paham" sudah membudaya di kalangan kita semua. Yang tadinya tidak tau masalah menjadi terseret atau diseret masuk ke dalam putaran konflik. Kalaw nda mau konflik terbuka dengan mengumbar kejelekan dan kesalahan orang, kini beralih kepada perang lain yang tidak kalah hebat dan mengerikan. Perang diam.

      Perang diam menurut saya sama buruknya dengan perang diera informasi dengan mempublishnya di jejaring sehingga saling membuat opini. Dalam media ini sudah hal yang lurah terjadi. Kasus korupsi, kasus malpraktek, dan kasus kasus lainnya sebagai contoh. Kami sudah terbiasa dengan caci maki, dan sumpah serapah orang dan itu menjadi masukan yang berharga.

      Tidak ada dendam bagi kami. Masukan dari masyarakat itu yang harus kita tampung, kita dengar dan kita tindak lanjuti. Dari sinilah kami melihat kekurangan kami untuk selanjutnya dikomunikasikan sehingga tercipta saling pengertian dan kerja sama di masa mendatang

      Hapus
    3. Saya setuju mas indra dengan Komitmensi hehe
      Komitmen dalam komunikasi kalee ya..

      tapi masukan saya mas, bekerjalah di bidang yang mas Indra suka..
      karena disamping hoby dan menyenangkan mas in mendapat provit.., yang buat kedepannya bakal bertambah karena kerja TOTAL kita di bidang tersebut..

      Saya sangat suka fotografi
      dan saya sangat "bahagia" bekerja di bidang itu..
      Selanmat pagi sahabatku mas In.. :)

      Hapus
    4. salah paham memang runyam. dalam dunia ini, kayaknya jutaan kali saya memulai sebuah rekonsiliasi. dan di hati, puas rasanya

      Hapus
    5. disini kalo salah paham malah jadi hiburan
      pasti abis tuh diketawain temen sebarak

      Hapus
    6. Kang Asep Haryono : Wih. Bahasanya dalem kang. Perang Diam ...


      Temanku pernah 'perang diam' dengan temanku yang lain, dan itu rasanya gak enak lho.
      Merenggangkan tali pertemanan .....

      Hapus
    7. Mas Kemungkinan Blog : Yaa ... aku suka dunia Tekkom. Hehe ....


      Setuju denganmu.

      Hapus
    8. Kang Asep : hmm ..


      bolehkah aku berguru padamu? Kayaknya cukup khatam nih kang zachroni buat yang beginian.. hehe

      Hapus
    9. Mas Rawin : iya lho. Terutama salah paham mengenai 'panci' yaa ... wkwkwkwk


      *kabuurrr*

      Hapus
    10. Perang Diam. Saya mau patenkan menjadi Judul Postingan saya kelak di kemudian hari. Saya mau menulis PERANG DIAM dalam prespektif saya. Insya Allah ya. Tidak Janji. Soale kalaw Janji bisa ditagih. Hiheiheiheiheiee

      Hapus
    11. ditagih malaikat di suatu masa kelak, makin berabe

      Hapus
    12. Kang Asep : Di tungggu nih tulisan berjudul PERANG DIAM nya kang.. kita tagih bersama-sama mas zach.. hehe

      Mas In : wah panggilan baru lagi buat saya nih, awalnya "Ganden" sekarang "mas Kemungkinan blog.." hahahah :D

      Hapus
    13. Haduh...bingung mau komen apa di kolom ini, bingung menentukan tema diskusinyah!

      #turuh ah.

      Hapus
    14. kang zachroni : kapan ditagihnya itu ya kang? :D

      Hapus
    15. Mas Kemungkinan Blog : Hahaha .... iya, abisnya nama blog mas lucu banget sih ...
      Masa 'Kemungkinan Blog' dengan sub-namanya 'Gue juga gak yakin ini blog apa bukan'??

      Makanya lebih asik lagi kalau manggilnya Mas Kemungkinan Blog kayaknya.. Hahaha

      Hapus
    16. Mas Rudy : banguuunnn .... banguuunnnnn

      Hapus
    17. mas Rudy mah bangun setiap sore

      Hapus
    18. sudahlah gausah mikirin tema

      *yg penting pancinya laku...

      Hapus
    19. Eits ntar dulu. Bubur Ayam juga lebih laku. Bonusnya Panci

      Hapus
  2. semangat kang yusuf,,akhirnya berjaya juga tu..
    ternyata komunikasi itu penting walau apa keadaan sekali pun..

    terkadang aku juga gak berani bilang ke bokap aku kalau aku mau pergi..aku cuman SMS aja..sulit..kira itu masalah komunikasi kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, ada rasa canggung ke bokap rupanya

      Hapus
    2. Mpok Zulaikha : yupp ... penting ituu.


      Nah sama. Aku juga agak sulit bilang ke orangtua kalau mau pergi saja. yup .. itu salah satu masalah komunikasi.

      Hapus
    3. kalau rasa canggung buat minta bubur sama kang asep, masuk sebagai masalah komunikasi gak kang?

      Hapus
  3. bener. komunikasi adalah 'kunci awal' dari semuanya.. semisal kita suka seseorang, klo gak diomongin mana mungkin dia tau klo kita suka dia. ntar perhatian yg kita berikan disalah artikan lagi sebagai perhatian seorang kakak... dieeeng... !!

    #pengalaman pribadiku waktu SMU T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi perlu omong ni kalu kita suka? wkwkwk :)

      Hapus
    2. @Budy Shinichi : memang betul sekali. Harus disampaikan dengan bahasa yang verbal ehm maksud saya diungkapan dengan kata. Pengalaman saya waktu muda (jadi sekarang sudah nda donk hiehehiee-red), si wanita memang perlu penegasan dari pria. Suka ya bilang saja suka. Tidak suka ya katakan dengan tidak suka. Jadi jelas semuanya.

      Kadang simpati kita kepada orang lain diartikan "rasa suka" atau "naksir". Padahal yang namanya simpati tidak harus berakhir dengan kata cinta. Cinta itu anugrah maka berbahagialah. Sebab kita sengsara bila tak punya cinta. Gitu kata Kang Doel Sumbang

      Hapus
    3. @ mbak jue : benar... tp kalo wanita ya jangan terlalu to the point :)

      @ kang asep : aduuuuuuuhh.. kang asep klo nyanyi ternyata suaranya merdu....

      @ kang zach : bukan SMUTT, kang zach. tp begini nih "...SMU (T.T)"

      Hapus
    4. Iya dulu saya ikut Audisi Kamar Mandi IDOL. Latihannya nyanyi di kamar mandi, dan luamyan juga berlatih nyanyi. Wah ada juga yang kagum dengar suara saya nyanyi ya. Padahal bukan suara atau bunyi. Melainkan tulisan atau kata kata hiheihiehiheihee

      Hapus
    5. wuahahahahahahahaha...... klo udah namanya kompak, meskipun cuma sebuah lirik lagu yg ditulis udah kedengaran merdunya kok, kang asep

      Hapus
    6. mau cowo mau cewek gapapa to the point
      daripada dah kebelet diempet tar malah bete
      soalnya cowok kan kebanyakan kurang peka dengan yang namanya isyarat

      Hapus
    7. Cak Budy : NAAHHHH ..... itu diaaa. Aku bisa mendapatkan kebahagiaan bersamanya karena komunikasi juga ..


      Sak Tuju Denganmu ... :D

      Hapus
    8. Mpok Zulaikha : Ooowww perlu sekali ituu ...

      Hapus
    9. Kang Asep : iya. lagunya doel sumbang yang judulnya "Kalau Bulan Bisa Ngomong" ... Haha

      Hapus
    10. Mas Rawins : Haha. Curahan galau sepertinya ituu ...

      Hapus
    11. mas rawin never ending galaw

      Hapus
    12. Emang lebih enak jadi cowok gombal ya?!

      #lho???

      Hapus
    13. cowoq gombal apanya ceweq gimbal?

      Hapus
    14. gimbal..?
      wedus dong..?

      Hapus
  4. wah kalo aku malah keknya gampang aja menyampaikan aspirasi, atau lebih tepatnya kalo ada sesuatu yang mengganjal, aku dengan mudah mengutarakannya ke orang tersebut :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampai orangnya merah padam pasti!

      Hapus
    2. wah enak yaa mbak Nufa ... dengan tanpa canggung :D

      Hapus
    3. abis itu dilempar panci #mengendap2 untuk berlari

      Hapus
    4. aku malah takut dilempar bubur sama mbak nufa :p

      Hapus
    5. pasti benjut kepalanya kena bubur batu. Bletuk bletuk

      Hapus
  5. Setuju dengan komunikasi bisa menyelesaikan masalah, tapi jangan salah komunikasi yang baik itu juga ada aturannya hingga nanti dia bisa berperan untuk menyelesaikan masalah, tidak semua orang dapat pandai berkomunikasi, termasuk saya bang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak putri namanya kayak dalam dongeng. malin kundang ya?

      Hapus
    2. termasuk saya juga, dhek Putri ... :D


      kang zachroni : Bukan, kang. sangkuriang itu :p

      Hapus
    3. Salah. Kalo Sangkuriang kan yang ada Warok Suromenggolo-nya.

      Hapus
    4. kolom yang ini malah makin sesat...

      Hapus
    5. semakin sesat karena anggota KPK ada disini ...

      Hapus
    6. KPK juga dongeng loh..
      tokohnya kancil sama buaya

      Hapus
    7. Sesama buaya agar saling memberi dukungan. Hidup Buaya

      Hapus
  6. Komunikasi itu penting banget ya...
    Tapi kadang aku suka males ngomong T.T
    Mas Indra keren amat aktif sekali di mana mana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama un...
      aku lebih suka ngetik...
      atau macul...

      Hapus
    2. Mas Indra dipuji keren. point banget tuhhh

      Hapus
    3. Wihh Mbak Una ganti nama .. :D


      Sama. Aku juga paling males ngomong, padahal kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi -_-'

      Hapus
    4. kalau Mas Rawins memang spesialisnya di pemaculan sama pengusahaan panci... :D

      Hapus
    5. ahh kang zachroni juga ganteng. kita kan KPK. Komisi Perata Kegantengan :P

      Hapus
    6. Wah nama Blog na Mba Una sudah ganti nama ya.
      "Tebak ini Siapa" sudah habis masa tayangnya. Kini sudah ganti nama menjadi "Untje van Wiebs". Wah musti pake bubur merah sama Bubur Putih tuh.

      Haaaaaaa Bubur lagiiii

      Hapus
    7. ntar ganti lagi namanya jadi Unyi. Lalu Unyil.
      #lari ahh sebelum disambit sumpit bubur

      Hapus
    8. Aku juga mau ganti nama ah jadi 'Che Gue Arra', terus diganti deh PP-ku jadi potoku lagi megang bedil.

      Hapus
    9. Kang Asep : Ayoo ... kita tiup lilin :p

      Hapus
    10. Mas Rudy : Asiiikkkk .... Ditunggu nama barunya yaa :D


      (minta ditimpukin bubur) :D

      Hapus
    11. ngakunya che guearra
      yang dipasang buat propil fotonya bang haji...

      Hapus
    12. Bang Haji nyanyi lagunya "mendadak capres"

      Hapus
  7. Walau terkadang kita ragu dan takut saat akan menyampaikan aspirasi ataupun sesuatu hal yang kita kehendaki, tapi tetap saja komunikasi adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Menggerutu didalam hati hanya bisa membuat mental menjadi sakit, lalu kita menjadi pasif, kreatifitas menjadi sempit, dan akhirnya otak kita 'pailit'...ih amit-amit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul Mas ...
      Makanya saat itu aku beranikan diri untuk bicara .... Dan sekarang, plong sudah karena masalah telah selesai .... :)

      Hapus
    2. kalian sudah satu jurus, adik seperguruan

      Hapus
    3. sy byk belajar nih sama mas rudy n mas indra...

      jiwa muda berpikiran dewasa...

      karena jujur...sy pun tergolong lemah..dlm berkomunikasi...

      sukses trus ya..mas indra :)

      Hapus
    4. lemah gemulai gak..?
      kaya mang rudi dong..?

      Hapus
    5. Penampilan macho Metal, hati ceribel

      Hapus